Legenda Keraton Panarajon.
Legenda Keraton Panarajon.
Pada masa lampau, berdirilah sebuah kerajaan agung di bawah pemerintahan Maharaja Sri Haji Jayapangus, yang beristana megah di Gunung Panarajon. Di samping beliau berdiri permaisuri utama yang sangat bijaksana, bergelar Sri Parameswari Induja Ketana. Sang Permaisuri dikisahkan berasal dari Danau Batur, merupakan putri dari keturunan Bali Mula, penduduk asli pulau Bali yang penuh kearifan leluhur. Di masa itu, Senapati Kuturan yang menjabat adalah Mpu Nirjamna, yang dibantu oleh dua orang penasehat kerajaan yang bijaksana, yaitu Mpu Siwa Gandhu dan Mpu Lim. Di dalam lingkungan Mpu Lim hiduplah seorang dayang yang sangat cantik jelita, bernama Kang Cing We, putri dari I Subandar yang memperistri seorang wanita Bali bernama Jangir.
Setelah sekian lama Kang Cing We menjadi dayang di lingkungan istana, Maharaja Sri Haji Jayapangus menaruh hati dan berkeinginan untuk memperistri gadis tersebut serta melangsungkan pernikahan secara sakral. Mendengar kehendak Baginda, Sang Penasehat Mpu Siwa Gandhu segera menghadap untuk memberikan nasihat dengan penuh hormat. Beliau berkata bahwa keinginan Baginda kurang tepat, karena Baginda beragama Hindu sedangkan Kang Cing We beragama Buddha, sehingga perbedaan keyakinan itu dikhawatirkan menimbulkan ketidakharmonisan di kemudian hari. Namun sayangnya, nasihat yang tulus itu tidak diindahkan oleh Baginda Raja. Bahkan, Sri Haji Jayapangus justru murka kepada penasehatnya, sehingga Mpu Siwa Gandhu pun akhirnya mengundurkan diri dan tidak lagi menjabat sebagai penasehat di Kerajaan Panarajon.
Tanpa menunda lagi, Baginda Raja melangsungkan upacara pernikahan yang megah dan sakral, yang disaksikan oleh para rohaniawan dari agama Hindu maupun Buddha, para pejabat tinggi kerajaan seperti Sang Pamegat, para kepala desa, serta seluruh rakyat dan pengikut kerajaan. Setelah upacara selesai, I Subandar, ayah dari Kang Cing We, mempersembahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong kepada putrinya sebagai bekal dan simbol pengabdian kepada Baginda Raja. Kemudian, atas permohonan I Subandar, Baginda Raja menganugerahkan dua keping uang kepeng tersebut kepada seluruh rakyat di seantero Pulau Bali, untuk digunakan sebagai sarana persembahan dalam setiap upacara yajña, sebuah tradisi yang terus hidup hingga masa kini.
Namun, keputusan Baginda Raja tersebut membuat hati Mpu Siwa Gandhu bergejolak dan penuh kemarahan. Beliau merasa ajaran agama dan keseimbangan alam telah dilanggar, sehingga beliau memutuskan untuk melaksanakan tapa brata yang sangat khusyuk, memohon kepada para dewa agar terjadi angin ribut dahsyat dan hujan lebat selama satu bulan tujuh hari penuh. Karena kesungguhan tapa bratanya yang luar biasa, doa beliau pun terkabul. Langit berubah gelap, angin puting beliung melanda keraton Panarajon disertai hujan yang tak henti-henti, hingga akhirnya keraton megah Sri Haji Jayapangus runtuh dan musnah diterjang amukan alam.
Dengan berat hati, Sri Haji Jayapangus terpaksa meninggalkan istananya yang telah hancur, lalu mengungsi bersama sisa-sisa abdi dan pengikutnya menuju ke dalam hutan belantara, ke sebuah wilayah yang bernama Desa Jong Les. Di sana, dengan ketekunan dan semangat yang tak pernah padam, Baginda Raja merabas semak belukar dan hutan lebat hingga menjadi tanah yang subur, lalu membangun kembali tempat tinggal serta tempat suci, dilengkapi dengan upacara dan persembahan yajña sesuai ajaran agama yang beliau anut. Di tempat inilah beliau memusatkan pikiran terdalam, merenung dan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan penuh ketulusan hati, hingga akhirnya beliau berhasil membangun keraton baru dan tempat suci yang megah. Tempat suci inilah yang kini kita kenal sebagai Pura Dalem Balingkang.
Nama "Dalem" diambil dari kata Kuta Dalem Jong Les, tempat di mana Baginda memusatkan pikiran paling dalam untuk memuja Tuhan. Sedangkan kata "Balingkang" berasal dari gabungan dua makna: "Bali" melambangkan Baginda Raja sebagai penguasa jagat Bali Dwipa, dan "Kang" diambil dari nama permaisurinya, Kang Cing We. Setelah membangun keraton baru di Balingkang, kerajaan pun kembali makmur dan sejahtera. Sri Haji Jayapangus kembali memerintah dengan bijaksana, didampingi oleh kedua permaisuri yang duduk di kiri dan kanan singgasana beliau. Di sebelah kanan duduk Sri Parameswari Induja Ketana, permaisuri pertama, dan di sebelah kiri duduk Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna atau Kang Cing We, permaisuri kedua. Bersama para pejabat kerajaan dan seluruh rakyat, mereka hidup rukun dan damai, menjadikan Kerajaan Balingkang sebagai simbol persatuan dan toleransi yang abadi di Pulau Bali.
Komentar
Posting Komentar