Legenda Guendalina Azzurrina.

Legenda Guendalina Azzurrina.
 
Dahulu kala, di kota Rimini, Italia, yang dikenal dengan keindahan pemandangannya dan sejarah yang kaya, hiduplah seorang gadis kecil bernama Guendalina Malatesta. Sejak lahir, Guendalina berbeda dari anak-anak lainnya. Ia seorang pengidap albino — kulitnya berwarna sangat pucat bagaikan pualam putih, dan rambutnya tumbuh berwarna putih bersih, seakan-akan belum pernah disentuh oleh sinar matahari. Di masa itu, perbedaan seperti itu bukanlah sesuatu yang diterima dengan baik. Pengidap albino sering kali dikucilkan oleh masyarakat, bahkan ada yang dibunuh secara kejam karena dianggap membawa bencana. Kepercayaan setempat pada masa itu meyakini bahwa orang yang berpenampilan demikian dikaitkan dengan kutukan dan sihir, sehingga siapa pun yang berbeda harus dijauhi atau dimusnahkan.
 
Orang tua Guendalina sangat mencintai putri mereka dan tidak ingin kehilangan dia. Melihat bahaya yang terus mengancam nyawa anak mereka, mereka berusaha dengan segala cara agar Guendalina bisa hidup aman seperti anak-anak lainnya. Suatu hari, mereka menemukan sebuah ramuan herbal yang konon bisa mengubah warna rambut. Dengan penuh harapan, mereka mewarnai rambut putih Guendalina menjadi hitam pekat. Ketika Guendalina melihat bayangannya sendiri di cermin, ia merasa sangat bahagia. Kini rambutnya tidak lagi berwarna putih, tidak ada yang akan tahu bahwa ia seorang albino, dan ia pun tidak perlu lagi takut untuk keluar rumah.
 
Namun takdir berkata lain. Ketika Guendalina pertama kali melangkah keluar rumah dan terkena sinar matahari pagi, rambut hitamnya perlahan berubah warna menjadi kebiruan, lembut namun jelas terlihat. Sejak saat itu, orang-orang mulai memanggilnya Azzurrina — si kecil yang berwarna kebiruan. Penampilan yang unik itu justru semakin membuat orang-orang curiga, dan rahasia yang selama ini mereka jaga dengan susah payah akhirnya tersingkap. Ayahnya, demi melindungi nyawa putrinya, terpaksa mengasingkan Guendalina ke kastil Montebello yang terletak di atas bukit terpencil, jauh dari keramaian dan mata-mata kerajaan. Di sana, ia berharap putrinya bisa hidup aman dan tenang.
 
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Guendalina harus tinggal di kastil yang sunyi itu sendirian. Satu-satunya temannya hanyalah sebuah boneka beruang kesayangannya yang selalu ia peluk erat. Sementara itu, kedua orang tuanya ditangkap oleh pasukan kerajaan karena telah menyembunyikan seorang albino. Ibunya dihukum mati, dan ayahnya pun ditahan untuk menjalani pemeriksaan sebelum dijatuhi hukuman yang sama. Dunia kecil Guendalina hancur berantakan; ia sendirian, jauh dari orang-orang yang dicintainya, di dalam tembok kastil yang dingin dan sunyi.
 
Hingga suatu hari, keberadaan Guendalina akhirnya diketahui juga oleh pasukan kerajaan. Pintu gerbang kastil terbuka, dan seorang prajurit kerajaan melangkah masuk. Guendalina terkejut dan gemetar ketakutan melihat sosok itu mendekat. Namun ketika prajurit itu melepaskan helmnya, dunia seakan berhenti berputar. Di hadapannya bukanlah musuh asing, melainkan ayahnya sendiri. Sang ayah juga terkejut dan tak kuasa menahan tangis. Ternyata, ia telah dipaksa oleh penguasa kerajaan untuk menjalankan tugas yang paling kejam: membunuh putri kesayangannya sendiri sebagai bukti kesetiaan kepada kerajaan. Di antara pilihan yang mustahil — membangkang dan mati bersama keluarga, atau melaksanakan perintah untuk menyelamatkan yang lain — sang ayah terpaksa menyerah pada keadaan yang telah mengatur segalanya dengan kejam.
 
Dengan tangan yang gemetar dan hati yang hancur, sang ayah melakukan perbuatan yang tak akan pernah ia maafkan pada dirinya sendiri. Setelah semuanya berakhir, ia jatuh berlutut dan menangis sejadi-jadinya, meratapi kehilangan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Guendalina si Azzurrina meninggal pada tanggal 21 Juni tahun 1375, di tangan orang yang paling ia cintai di dunia — ayahnya sendiri. Ia menjadi korban ketakutan masyarakat, kepercayaan yang keliru, dan keegoisan kekuasaan yang tak peduli pada ikatan darah.
 
Namun kisah Guendalina tidak berakhir di sana. Konon, setiap lima tahun sekali, di kastil Montebello yang tua itu, suasana akan berubah menjadi dingin dan sunyi, lalu terdengar suara tangisan atau tawa kecil seorang anak perempuan yang bergema di antara lorong-lorong batu. Seakan-akan jiwa Guendalina belum pernah benar-benar pergi, masih bermain di tempat yang pernah menjadi rumah sekaligus penjaranya. Pada tahun 1990, peneliti yang datang ke kastil itu berhasil merekam suara tangisan halus yang diyakini sebagai suara Azzurrina, dan rekaman itu pun diperdengarkan kepada para wisatawan yang datang berkunjung. Hingga kini, nama Guendalina Azzurrina tetap hidup dalam legenda — sebuah kisah tentang kepolosan yang hancur, cinta yang berubah menjadi pedih, dan bayangan kebiruan yang tak pernah benar-benar pudar dari ingatan orang-orang yang mendengar ceritanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nyi Roro Kidul Dan Prabu Siliwangi.

Sabdo Palon.

Kisah Tragis Ranggalawe.